Sore yang cerah menjadi kesempatan bagi warga Fukuoka pemerhati seni. Minggu 9 September 2018 empat orang seniman dari Indonesia mempresentasikan karyanya. Mereka adalah Ariesa Pandanwangi, Gilang Cempaka, Nurul Primayanti, dan Rina Mariana. Ariesa mempresentasikan karyanya yang merupakan hasil penelitiannya dari Nias. Bumi Nias yang kerap terkena gempa ternyata tidak meluluh lantakan Oma Hada. Hal ini semua dituangkan dalam bentuk visual dengan mengggunakan material gutta tamarind. Gilang cempaka mempresentasikan tentang keindahan indonesia dengan tajuk mooi indie dengan menggunakan material gutta tamarind. Karya lainnya yang dipresentasikan adalah karya diatas kanvas. Nurul Primayanti mempresebtasikan karyanya tentang bagaimana music mempengaruhi kehidupannya. Rina Mariana mempresentasikan karya karyanya yang menggunakan material Gutta Tamarind. Salah satu karyanya yang disajikan dalam presentasi mampu memukau peserta diskusi dalam artist talk.
Selanjutnya tampil seniman Profesor Angela dari Portugal yang mengusung konsep multi media. Tema karyanya mengusung seluruh aktivitas yang dilakukannya diatas meja. Tampilan karyanya menyuguhkan infocus yang diarahkan ke atas meja. Taplak meja dibentangkan didinding dianggap sebagai saksi aktivitas di atas meja. Sedangkan tampilan visual diatas meja menyuguhkan rangkaian seluruh aktivitasnya diatas meja seperti makan, melukis, mengetik serta mengerjakan pekerjaan lainnya sebagai dosen.
Eva Ibanez Cano dari Spanyol mempresentasikan karyanya diatas kertas dengan iringan musik dari spanyol. Karyanya membutuhkan kontemplasi yang dalam. Musik membuatnya hanyut dalam sekali brushstroke.
Bailey seniman dari Hawai mempresentasikan karyanya tentang manga dalam kehidupan sehari hari.
Diskusi berlangsung meriah dan membuat interaktif dengan pengunjung.
Minggu, 09 September 2018
Sabtu, 08 September 2018
SERIUSNYA WARGA JEPANG BELAJAR TEKNIK BATIK
Cuaca tampaknya kurang mendukung akibat hujan deras dan cuaca mendung, membuat peserta workshop tidak banyak. Tetapi antusias mereka luar biasa.
Acara dibuka oleh Elida Maria Matsumoto dan dilanjutkan oleh presentasi tim pendidik. Contoh karya juga diperlihatkan oleh tim.
Selanjutnya.acara workshop didampingi oleh delegasi dari Indonesia. Antusianya mereka hingga kami tidak diperkenankan untuk memberikan contoh di atas kain mereka. Sehingga workshop yg tadinya selesai pukul 15.00 menjadi pukul 16.00.
Beruntung Tiempo Gallery terletak di tengah kota sehingga usai dari memberikan workshop kami masih dapat mengikuti acara Asia Art Fair-Fukuoka 2018.
Lokasinya tidak jauh dari tempat kami dan ditempuh dengan jalan kaki.
Sangat menarik mengamati perkembangan seniman muda milenial Japan. Karyanya unik, imut, dan di display dengan memanfaatkan kamar kamar hotel dan toilet. Branding artworks mereka dikemas sangat baik.
Usai dari lokasi ini tim kami lintas negara berkunjung ke Art Museum Fukuoka.
Acara dibuka oleh Elida Maria Matsumoto dan dilanjutkan oleh presentasi tim pendidik. Contoh karya juga diperlihatkan oleh tim.
Selanjutnya.acara workshop didampingi oleh delegasi dari Indonesia. Antusianya mereka hingga kami tidak diperkenankan untuk memberikan contoh di atas kain mereka. Sehingga workshop yg tadinya selesai pukul 15.00 menjadi pukul 16.00.
Beruntung Tiempo Gallery terletak di tengah kota sehingga usai dari memberikan workshop kami masih dapat mengikuti acara Asia Art Fair-Fukuoka 2018.
Lokasinya tidak jauh dari tempat kami dan ditempuh dengan jalan kaki.
Sangat menarik mengamati perkembangan seniman muda milenial Japan. Karyanya unik, imut, dan di display dengan memanfaatkan kamar kamar hotel dan toilet. Branding artworks mereka dikemas sangat baik.
Usai dari lokasi ini tim kami lintas negara berkunjung ke Art Museum Fukuoka.
Rabu, 05 September 2018
Komunitas 22 Ibu Transit di HK menuju Fukuoka
Sebanyak 4 orang pendidik yaitu Ariesa Pandanwangi dari UK Maranatha, Gilang Cempaka selaku Dekan sekaligus dosen dari Universitas Paramadina Jakarta, Nurul Primayanti dari Podomoro University Jakarta dan Rina Mariana dari SMPN 1 Ngamprah. Mereka berangkat berdasarkan undangan dari Elida Maria Matsumoto selaku founder sekaligus pengelola event Art Festival Fukuoka di Jepang.
Adapun materi yang akan dibawakan oleh delegasi tersebut adalah kearifan lokal dan dampaknya bagi kebudayaan dan ekonomi kreatif. Selamat dan semoga lancar. (AP-K22I)
Link dari publikasi tersebut dapat diakses Komunitas 22 Ibu Adakan Pelatihan Batik Klungsu di Fukuoka
Kamis, 16 Agustus 2018
Komunitas 22 Ibu: Pameran Rekam Jejak Komunitas 22 Ibu
Komunitas 22 Ibu: Pameran Rekam Jejak Komunitas 22 Ibu: Pameran ini diselenggarakan 7- 9 Agustus 2018 di Galeri Thee Huis. Pameran ini merupakan pameran arsip yang terdokumentasikan dengan baik...
Jumat, 10 Agustus 2018
Komunitas 22 Ibu: PAMERAN ET CETERA #2
ETCETERA # 2
Momometen da Hoshiin, da Etosetora
(aku memintamu, aku menginginkanmu, dan lain - lain )
Itulah potongan lirik lagu "Et Cetera" group band Jepang One Ok Rock yang selalu berlatih jam 1 malam. Lirik tersebut dihasratkankan bisa menjadi rangsang awal bagi resepsi dan interpretasi bagi
Komunitas 22 Ibu dalam berkarya. Pameran bertajuk "Et Cetera" – suatu istilah dari bahasa Latin yang berarti dan lain-lain, terbagi dalam dua bagian.
Sebagaimana pameran sebelumnya, Etcetera # 2 diusung pula oleh 20 perupa perempuan.
Pameran ini mencoba memperlihatkan kemungkinan keragaman pencarian dan pencapaian estetik para perupa dalam Komunitas 22 Ibu dalam rentang 3 tahun terakhir.
Dunia seni rupa saat ini tidak hanya tumbuh menjadi semakin kaya, namun juga berkembang semakin kompleks. Perkembangan dan pergeseran itu bukan hanya dalam soal pencapaian nilai estetis, tetapi juga terkait kriteria dan proses penciptaan.
Di masa kini, proses kreasi nampak tak lagi steril dan bersifat sangat individual : semata mengandalkan intuisi, kepekaan emosi, bahkan keterampilan belaka. Karya seni yang diproduksi seperti menuntut suatu kondisi tertentu, di mana pengetahuan tentang seni saja tidak lagi dianggap cukup, dibutuhkan pula pengetahuan tentang kebudayaan, sosial, dan filsafat. Dalam banyak sisi, keintiman, dan keseriusan para perupa terhadap perkara kognitif dalam kaitan proses observasi (mengamati, mengenali, dan membaca) bagaimana kebudayaan bergerak menjadi sangat dibutuhkan.
Watak modernitas dan modernisme yang cenderung mengkategorisasikan berbagai hal dan mengkotakkannya sedemikian rupa, menyebabkan seni dikenali dalam rumusan dikotomis : seni tinggi-seni rendah, atau seni murni – seni terapan. Namun, perkembangan eksplorasi media yang membawa pula paradigma baru, nyatanya telah menyebabkan batasan itu jadi meleleh. Kini, batasan mengenai kebudayaan tinggi maupun kebudayaan massa kian kabur. Dalam lain kata, saat arus pemikiran dan ukuran kebenaran tidak lagi mutlak tunggal, tidak mustahil berbagai kerancuan, ambiguitas, dan paradoksal nilai juga turut membayangi. Dan kabar baiknya, realitas semacam itu, justru yang mendorong terjadinya eksplorasi tema dan bentuk-bentuk artistik dalam praktik seni rupa.
Pencarian nilai ekspresi sebagai Jalan terbuka
Komunitas yang diusung oleh para perempuan lintas profesi dan bermukim tidak dalam satu wilayah ini tergolong memiliki ritme berkarya yang cukup tinggi, Grafik aktivitas pameran yang dilakukannya memperlihatkan frekuensi yang membaggakan di tengah kenyataan betapa masih kurangnya perempuan yang menempuh jalan seni sebagai pilihan hidup.
Para perupa yang sebagian besar memiliki profesi sebagai pendidik seni rupa ini nampak cukup memiiki siasat dalam mengolah kesadaran dan tanggung jawab pribadinya, baik terhadap keluarga maupun institusinya. Secara khusus, yang menarik dari dinamika kreatif para perupa ini bermuara pada perkara pentingnya menjaga keterbukaan komunikasi dan membangun relasi yang hangat dan terbuka dalam koridor gagasan, pengetahuan dan regenerasi.
Karya-karya yang tampil dalam ‘Et cetera # 2’, nampak membawa ungkapan ekspresi beragam. Keragaman itu nampak dibangun melalui perbedaan eksplorasi media dan teknik yang beranjak dari potensi paling sederhana, semisal keutamaan pensil, drawing pen, cat air, akrilik, ghutta tamarin hingga digital print serta mixed media.
Sementara soal elaborasi subyect matter para perupa perempuan ini nampak bergerak di antara gambaran fenomena sosial dan lingkungan terkait dunia benda-benda, hewan, tumbuhan, dan manusia. Intensi yang dikemukakan pun beragam, mulai dari upaya mengabadikan sensasi keindahan alam, persoalan yang dirasakan baik dalam kaitan personifikasi maupun respon personal atas kehidupan.
Penyerapan unsur (teknik) batik yang dipraktikan oleh Niken Apriani, Arleti Mochtar Apin, Yetti Nurhayati, Sri Nuraeni, dan Wien Melina nampak menyandang dialektika praktik modern yang disandingkan pada tradisi : memanfaatkan potensi malam dingin (ghuta tamarin) dan pewarna textile untuk merealisasikan gambaran abstraksi bunga, imaji-imaji plastis, problem transfaransi ruang, memperlihatkan bagaimana teknik gutta tamarin itu digunakan selain untuk perintang warna juga difungsikan sebagai jalan bagi artikulasi persoalan yang dipikirkan dan dirasakannya.
Dalam bentuk pengucapan yang lain, pengalaman estetik yang tumbuh di sekitar diri sebagai ekspresi pengalaman pribadi ke arah pencarian metaphor dan personifikasi diri, nampak antara lain melalui ungkapan Meyhawati Yuyu Julaeha Rasep, Siti Sartika, Eneng Nani Suryati, Wida Widya Kusumah, Ety Sukaetini, Atrida Wilastrina, Sri Rahayu Saptawati, dan Almira Belinda Zainsjah.
Dalam karya-karya para perupa tersebut, terlacak bahwa pencarian dan penyusunan citra visual serta narasi yang mendasari karya selain bermula dari pengamatan atas sensasi, imajinasi serta penggalian metaphor terhadap dunia benda-benda termasuk pula penekanan atas relasi makna melalui sistem penandaan visualnya, beranjak dari upaya membangkitkan kembali berbagai gambaran dalam ingatan.
Penyerapan atas media baru yang disokong teknologi digital sebagai alat ungkap ekspresi, dalam berbagai bentuknya telah disikapi dan dmanfaatkan oleh banyak perupa.
Pengabadian peristiwa (momen) yang fana atau bagaimana realitas yang sesungguhnya bergerak cepat itu dibekukan, nampak dalam ungkapan karya Dyah Limaningsih, Eksplorasi lebih lanjut dilakukan Cama Juli Ria, Thalita, Luki Lutvia dan Wanda Listiani. Penyikapan atas medium serta kemungkinan dari pengolahan citra (visual) itu selain menjangkau orientasi artistik dan tematik yang khas dalam membawa cita rasa, representasi itu memungkinkan terjadinya penyerapan teknik secara lanjut dalam lukisan seperti keutamaan yang ditempuh oleh Tjutju Widjaja.
Pergumulan dan pencarian nilai ekspresi yang ditempuh oleh para perupa dalam Komunitas 22 Ibu dengan keragaman ungkapan yang ditawarkannya di thee huis gallery ini tentu tidak sedang mengusulkan cara baru dalam mengartikulasikan berbagai persoalan dalam kehidupan secara estetis, melainkan turut menawarkan dan memperkaya ikhwal dan lain-lain sebagai entitas yang bermakna dalam proses kreasi menjadi semacam jalan terbuka bagi apresiasi, terlebih mengingat bahwa pengucapan seni sejatinya senantiasa menawarkan ke-beragam-an dan unik.
Bandung, 10 Agustus 2018
Diyanto
Momometen da Hoshiin, da Etosetora
(aku memintamu, aku menginginkanmu, dan lain - lain )
Itulah potongan lirik lagu "Et Cetera" group band Jepang One Ok Rock yang selalu berlatih jam 1 malam. Lirik tersebut dihasratkankan bisa menjadi rangsang awal bagi resepsi dan interpretasi bagi
Komunitas 22 Ibu dalam berkarya. Pameran bertajuk "Et Cetera" – suatu istilah dari bahasa Latin yang berarti dan lain-lain, terbagi dalam dua bagian.
Sebagaimana pameran sebelumnya, Etcetera # 2 diusung pula oleh 20 perupa perempuan.
Pameran ini mencoba memperlihatkan kemungkinan keragaman pencarian dan pencapaian estetik para perupa dalam Komunitas 22 Ibu dalam rentang 3 tahun terakhir.
Dunia seni rupa saat ini tidak hanya tumbuh menjadi semakin kaya, namun juga berkembang semakin kompleks. Perkembangan dan pergeseran itu bukan hanya dalam soal pencapaian nilai estetis, tetapi juga terkait kriteria dan proses penciptaan.
Di masa kini, proses kreasi nampak tak lagi steril dan bersifat sangat individual : semata mengandalkan intuisi, kepekaan emosi, bahkan keterampilan belaka. Karya seni yang diproduksi seperti menuntut suatu kondisi tertentu, di mana pengetahuan tentang seni saja tidak lagi dianggap cukup, dibutuhkan pula pengetahuan tentang kebudayaan, sosial, dan filsafat. Dalam banyak sisi, keintiman, dan keseriusan para perupa terhadap perkara kognitif dalam kaitan proses observasi (mengamati, mengenali, dan membaca) bagaimana kebudayaan bergerak menjadi sangat dibutuhkan.
Watak modernitas dan modernisme yang cenderung mengkategorisasikan berbagai hal dan mengkotakkannya sedemikian rupa, menyebabkan seni dikenali dalam rumusan dikotomis : seni tinggi-seni rendah, atau seni murni – seni terapan. Namun, perkembangan eksplorasi media yang membawa pula paradigma baru, nyatanya telah menyebabkan batasan itu jadi meleleh. Kini, batasan mengenai kebudayaan tinggi maupun kebudayaan massa kian kabur. Dalam lain kata, saat arus pemikiran dan ukuran kebenaran tidak lagi mutlak tunggal, tidak mustahil berbagai kerancuan, ambiguitas, dan paradoksal nilai juga turut membayangi. Dan kabar baiknya, realitas semacam itu, justru yang mendorong terjadinya eksplorasi tema dan bentuk-bentuk artistik dalam praktik seni rupa.
Pencarian nilai ekspresi sebagai Jalan terbuka
Komunitas yang diusung oleh para perempuan lintas profesi dan bermukim tidak dalam satu wilayah ini tergolong memiliki ritme berkarya yang cukup tinggi, Grafik aktivitas pameran yang dilakukannya memperlihatkan frekuensi yang membaggakan di tengah kenyataan betapa masih kurangnya perempuan yang menempuh jalan seni sebagai pilihan hidup.
Para perupa yang sebagian besar memiliki profesi sebagai pendidik seni rupa ini nampak cukup memiiki siasat dalam mengolah kesadaran dan tanggung jawab pribadinya, baik terhadap keluarga maupun institusinya. Secara khusus, yang menarik dari dinamika kreatif para perupa ini bermuara pada perkara pentingnya menjaga keterbukaan komunikasi dan membangun relasi yang hangat dan terbuka dalam koridor gagasan, pengetahuan dan regenerasi.
Karya-karya yang tampil dalam ‘Et cetera # 2’, nampak membawa ungkapan ekspresi beragam. Keragaman itu nampak dibangun melalui perbedaan eksplorasi media dan teknik yang beranjak dari potensi paling sederhana, semisal keutamaan pensil, drawing pen, cat air, akrilik, ghutta tamarin hingga digital print serta mixed media.
Sementara soal elaborasi subyect matter para perupa perempuan ini nampak bergerak di antara gambaran fenomena sosial dan lingkungan terkait dunia benda-benda, hewan, tumbuhan, dan manusia. Intensi yang dikemukakan pun beragam, mulai dari upaya mengabadikan sensasi keindahan alam, persoalan yang dirasakan baik dalam kaitan personifikasi maupun respon personal atas kehidupan.
Penyerapan unsur (teknik) batik yang dipraktikan oleh Niken Apriani, Arleti Mochtar Apin, Yetti Nurhayati, Sri Nuraeni, dan Wien Melina nampak menyandang dialektika praktik modern yang disandingkan pada tradisi : memanfaatkan potensi malam dingin (ghuta tamarin) dan pewarna textile untuk merealisasikan gambaran abstraksi bunga, imaji-imaji plastis, problem transfaransi ruang, memperlihatkan bagaimana teknik gutta tamarin itu digunakan selain untuk perintang warna juga difungsikan sebagai jalan bagi artikulasi persoalan yang dipikirkan dan dirasakannya.
Dalam bentuk pengucapan yang lain, pengalaman estetik yang tumbuh di sekitar diri sebagai ekspresi pengalaman pribadi ke arah pencarian metaphor dan personifikasi diri, nampak antara lain melalui ungkapan Meyhawati Yuyu Julaeha Rasep, Siti Sartika, Eneng Nani Suryati, Wida Widya Kusumah, Ety Sukaetini, Atrida Wilastrina, Sri Rahayu Saptawati, dan Almira Belinda Zainsjah.
Dalam karya-karya para perupa tersebut, terlacak bahwa pencarian dan penyusunan citra visual serta narasi yang mendasari karya selain bermula dari pengamatan atas sensasi, imajinasi serta penggalian metaphor terhadap dunia benda-benda termasuk pula penekanan atas relasi makna melalui sistem penandaan visualnya, beranjak dari upaya membangkitkan kembali berbagai gambaran dalam ingatan.
Penyerapan atas media baru yang disokong teknologi digital sebagai alat ungkap ekspresi, dalam berbagai bentuknya telah disikapi dan dmanfaatkan oleh banyak perupa.
Pengabadian peristiwa (momen) yang fana atau bagaimana realitas yang sesungguhnya bergerak cepat itu dibekukan, nampak dalam ungkapan karya Dyah Limaningsih, Eksplorasi lebih lanjut dilakukan Cama Juli Ria, Thalita, Luki Lutvia dan Wanda Listiani. Penyikapan atas medium serta kemungkinan dari pengolahan citra (visual) itu selain menjangkau orientasi artistik dan tematik yang khas dalam membawa cita rasa, representasi itu memungkinkan terjadinya penyerapan teknik secara lanjut dalam lukisan seperti keutamaan yang ditempuh oleh Tjutju Widjaja.
Pergumulan dan pencarian nilai ekspresi yang ditempuh oleh para perupa dalam Komunitas 22 Ibu dengan keragaman ungkapan yang ditawarkannya di thee huis gallery ini tentu tidak sedang mengusulkan cara baru dalam mengartikulasikan berbagai persoalan dalam kehidupan secara estetis, melainkan turut menawarkan dan memperkaya ikhwal dan lain-lain sebagai entitas yang bermakna dalam proses kreasi menjadi semacam jalan terbuka bagi apresiasi, terlebih mengingat bahwa pengucapan seni sejatinya senantiasa menawarkan ke-beragam-an dan unik.
Bandung, 10 Agustus 2018
Diyanto
Selasa, 07 Agustus 2018
Pameran Rekam Jejak Komunitas 22 Ibu
Pameran ini diselenggarakan 7- 9 Agustus 2018 di Galeri Thee Huis. Pameran ini merupakan pameran arsip yang terdokumentasikan dengan baik. Merekam perjalanan komunitas 22 Ibu dari tahun 21 April 2013 hingga 7 Agustus 2018.
Dokumen arsip di pamerkan dalam bentuk berita di media massa, foto, rekaman video kegiatan, quotes, DVD yang berisi rekaman TVRI dan stasiun swasta lainnya, undangan, katalog, buku dengan tema pameran yang berisikan tulisan dari para pendidik seni, dan leaflet.
Link berita ini dapat diakses melalui http://jabar.pojoksatu.id/bandung/2018/08/09/lihat-ada-di-sini-rekam-jejak-komunitas-22-ibu-di-ruang-galeri-thee-huis/
http://www.inilahnews.com/2018/08/10/komunitas-22-ibu-gelar-pameran-arsip/
Sabtu, 04 Agustus 2018
Komunitas 22 Ibu: PEMBUKAAN PAMERAN ET CETERA #1 GALERI THEE HUIS
Bandung Art Month 2018
Pameran Et Cetera #1
01-07 Agustus 2018
Bandung menggelar program Bandung Art Month 2018 yang melibatkan galeri, komunitas, seniman, ruang-ruang publik, dan masih banyak lagi. Kegiatan yang digelar dari pameran, workshop, kunjungan ke rumah seniman, diskusi, pemutaran film dan masih banyak lagi. Dalam hal ini komunitas 22 Ibu yang aktif berkegiatan seni, kali ini menggelar pameran dengan tajuk Et Cetera#1 pada tanggal 1 Agustus 2018 hingga 7 Agustus 2018. Pameran ini dibuka pada tanggal 1 Agustus 2018 oleh Bapak Iwan Gunawan,
Kasi atraksi seni budaya, UPTD ~ pengelolaan kebudayaan daerah Jawa Barat. Juga dimeriahkan oleh Ganiati.
Kegiatan pameran ini dapat terselenggara atas kerjasama banyak pihak antara Komunitas 22 Ibu dengan BNI selaku Bank Nasional di Indonesia yang berskala Nasional, Galeri Thee Huis dan Pojok Jabar.
Diyanto selaku kurator menyampaikan bahwa dalam pameran kali ini para perupa yang ditampilkan hanya 20 orang saja. Mereka yang menyajikan karyanya dalam Et Cetera #1 ini adalah Ariesa Pandanwangi, Arti Sugiarti, Ayoeningsih Dyah Woelandhary, Belinda Sukapura Dewi, Ika Kurnia Mulyati, Shitra Noor Handewi, Rina Mariana,
Neny Nurbayani, Niken Apriani, Mia Syarief, Risca Nogalesa Pratiwi, Dini Birdieni, Endah Purnamasari, Endang Caturwati, Nita Dewi, Nida Nabila, Nina Irnawati, Nuning Damayanti, Sri Sulastri, Yustine.
Tajuk pameran ini mengusung Et Cetera.
Momometen da Hoshiin, da Etosetora
(aku memintamu, aku menginginkanmu, dan lain - lain)
Itulah potongan lirik lagu "Et Cetera" group band Jepang One Ok Rock yang selalu berlatih jam 1 malam. Lirik yang ditulis oleh Taka dan digubah bersama Alex tersebut merupakan rangsang awal bagi resepsi dan interpretasi karya bagi Komunitas 22 Ibu dalam pameran bertajuk "Et Cetera", suatu istilah dari bahasa latin yang berarti dan lain - lain.
Pameran ini mencoba memperlihatkan kemungkinan keragaman pencarian dan pencapaian estetik para perupa dalam Komunitas 22 Ibu dalam rentang 3 tahun terakhir. Niken Apriani salah satu perupa menyampaikan bahwa kali ini ia mengusung karya karyanya yang terdiri atas dua layer yang memperlihatkan kesan tiga dimensi. Kesan tersebut dimunculkan melalui penempatan objek pada layer kain yang berbeda dan ada jarak antara lapisan layer bawah dengan lapisan layer atas. Karya saya ini menjadi pilihan saya dalam proses penciptaan sekaligus menjadi ciri khas saya, demikian pungkas Niken.
Saat ini, dunia seni rupa tidak hanya tumbuh menjadi semakin kaya, namun juga berkembang semakin kompleks. Perkembangan dan geseran itu bukan hanya dalam soal pencapaian nilai estetis, tetapi juga terkait kriteria dan proses penciptaan.
Kini, sebagaimana kita ketahui, suatu objek seni yang diproduksi, menuntut suatu kondisi tertentu di mana pengetahuan tentang seni saja tidak lagi cukup, tetapi dibutuhkan pula pengetahuan tentang kebudayaan, sosial, dan filsafat. Dalam banyak sisi, proses kreasi saat ini nampak tidak lagi steril dan bersifat individual yang mengandalkan intuisi, kepekaan emosi dan rasa, bahkan keterampilan belaka. Keintiman, dan keseriusan para perupa terhadap perkara kognitif dalam kaitan mengamati, mengenali, dan membaca bagaimana kebudayaan bergerak menjadi sangat dibutuhkan.
Komunitas yang diusung oleh para perempuan lintas profesi dan bermukim tidak dalam satu wilayah ini tergolong memiliki ritme serta gairah berkarya yang cukup tinggi, Grafik aktivitas pameran yang dilakukannya memperlihatkan intensitas serta frekuensi yang membanggakan di tengah kenyataan betapa masih kurangnya perempuan yang menempuh jalan seni sebagai pilihan hidup.
Para perupa yang sebagian besar memiliki profesi sebagai pendidik seni rupa ini nampak cukup memiiki siasat dalam mengolah kesadaran dan tanggung jawab pribadinya, baik terhadap keluarga maupun institusinya. Secara khusus, yang menarik dari dinamika kreatif para perupa ini bermuara pada perkara pentingnya menjaga keterbukaan komunikasi dan membangun relasi yang hangat dan terbuka dalam koridor gagasan, pengetahuan dan regenerasi.
Sepintas pandang, karya-karya yang ditampilkan dalam ‘Et cetera # 1’, nampak membawa ungkapan ekspresi yang beragam. Keragaman itu nampak dibangun melalui perbedaan eksplorasi media dan teknik yang beranjak dari potensi paling sederhana, semisal keutamaan pensil, drawing pen, cat air, akrilik, gutta tamarin hingga digital print serta mixed media. Sementara soal subyect matter yang dielaborasi para perupa perempuan ini nampak bergerak di antara gambaran fenomena sosial dan lingkungan terkait dunia benda-benda, khewan, tumbuhan, dan manusia.
Intensi yang dibawa pun beragam, mulai dari upaya mengabadikan sensasi keindahan alam, persoalan yang dirasakan baik dalam kaitan personifikasi maupun respon personal atas kehidupan, hingga gagasan yang bersifat inter aktif.
Pergumulan dan pencarian nilai ekspresi yang ditempuh dan dijalani oleh para perupa yang tergabung dalam Komunitas 22 Ibu dengan keragaman ungkapan yang ditawarkannya di thee huis gallery ini tentu tidak sedang mengusulkan cara baru dalam mengartikulasikan berbagai persoalan dalam kehidupan secara estetis, melainkan turut menawarkan dan memperkaya ikhwal dan lain-lain sebagai entitas yang bermakna dalam proses kreasi menjadi semacam jalan terbuka bagi apresiasi, terlebih mengingat bahwa pengucapan seni sejatinya senantiasa menawarkan ke-beragam-an dan unik.
Sumber: Diyanto-Kurator, dan Komunitas 22 Ibu
Pameran Et Cetera #1
01-07 Agustus 2018
Bandung menggelar program Bandung Art Month 2018 yang melibatkan galeri, komunitas, seniman, ruang-ruang publik, dan masih banyak lagi. Kegiatan yang digelar dari pameran, workshop, kunjungan ke rumah seniman, diskusi, pemutaran film dan masih banyak lagi. Dalam hal ini komunitas 22 Ibu yang aktif berkegiatan seni, kali ini menggelar pameran dengan tajuk Et Cetera#1 pada tanggal 1 Agustus 2018 hingga 7 Agustus 2018. Pameran ini dibuka pada tanggal 1 Agustus 2018 oleh Bapak Iwan Gunawan,
Kasi atraksi seni budaya, UPTD ~ pengelolaan kebudayaan daerah Jawa Barat. Juga dimeriahkan oleh Ganiati.
Kegiatan pameran ini dapat terselenggara atas kerjasama banyak pihak antara Komunitas 22 Ibu dengan BNI selaku Bank Nasional di Indonesia yang berskala Nasional, Galeri Thee Huis dan Pojok Jabar.
Diyanto selaku kurator menyampaikan bahwa dalam pameran kali ini para perupa yang ditampilkan hanya 20 orang saja. Mereka yang menyajikan karyanya dalam Et Cetera #1 ini adalah Ariesa Pandanwangi, Arti Sugiarti, Ayoeningsih Dyah Woelandhary, Belinda Sukapura Dewi, Ika Kurnia Mulyati, Shitra Noor Handewi, Rina Mariana,
Neny Nurbayani, Niken Apriani, Mia Syarief, Risca Nogalesa Pratiwi, Dini Birdieni, Endah Purnamasari, Endang Caturwati, Nita Dewi, Nida Nabila, Nina Irnawati, Nuning Damayanti, Sri Sulastri, Yustine.
Tajuk pameran ini mengusung Et Cetera.
Momometen da Hoshiin, da Etosetora
(aku memintamu, aku menginginkanmu, dan lain - lain)
Itulah potongan lirik lagu "Et Cetera" group band Jepang One Ok Rock yang selalu berlatih jam 1 malam. Lirik yang ditulis oleh Taka dan digubah bersama Alex tersebut merupakan rangsang awal bagi resepsi dan interpretasi karya bagi Komunitas 22 Ibu dalam pameran bertajuk "Et Cetera", suatu istilah dari bahasa latin yang berarti dan lain - lain.
Pameran ini mencoba memperlihatkan kemungkinan keragaman pencarian dan pencapaian estetik para perupa dalam Komunitas 22 Ibu dalam rentang 3 tahun terakhir. Niken Apriani salah satu perupa menyampaikan bahwa kali ini ia mengusung karya karyanya yang terdiri atas dua layer yang memperlihatkan kesan tiga dimensi. Kesan tersebut dimunculkan melalui penempatan objek pada layer kain yang berbeda dan ada jarak antara lapisan layer bawah dengan lapisan layer atas. Karya saya ini menjadi pilihan saya dalam proses penciptaan sekaligus menjadi ciri khas saya, demikian pungkas Niken.
Saat ini, dunia seni rupa tidak hanya tumbuh menjadi semakin kaya, namun juga berkembang semakin kompleks. Perkembangan dan geseran itu bukan hanya dalam soal pencapaian nilai estetis, tetapi juga terkait kriteria dan proses penciptaan.
Kini, sebagaimana kita ketahui, suatu objek seni yang diproduksi, menuntut suatu kondisi tertentu di mana pengetahuan tentang seni saja tidak lagi cukup, tetapi dibutuhkan pula pengetahuan tentang kebudayaan, sosial, dan filsafat. Dalam banyak sisi, proses kreasi saat ini nampak tidak lagi steril dan bersifat individual yang mengandalkan intuisi, kepekaan emosi dan rasa, bahkan keterampilan belaka. Keintiman, dan keseriusan para perupa terhadap perkara kognitif dalam kaitan mengamati, mengenali, dan membaca bagaimana kebudayaan bergerak menjadi sangat dibutuhkan.
Komunitas yang diusung oleh para perempuan lintas profesi dan bermukim tidak dalam satu wilayah ini tergolong memiliki ritme serta gairah berkarya yang cukup tinggi, Grafik aktivitas pameran yang dilakukannya memperlihatkan intensitas serta frekuensi yang membanggakan di tengah kenyataan betapa masih kurangnya perempuan yang menempuh jalan seni sebagai pilihan hidup.
Para perupa yang sebagian besar memiliki profesi sebagai pendidik seni rupa ini nampak cukup memiiki siasat dalam mengolah kesadaran dan tanggung jawab pribadinya, baik terhadap keluarga maupun institusinya. Secara khusus, yang menarik dari dinamika kreatif para perupa ini bermuara pada perkara pentingnya menjaga keterbukaan komunikasi dan membangun relasi yang hangat dan terbuka dalam koridor gagasan, pengetahuan dan regenerasi.
Sepintas pandang, karya-karya yang ditampilkan dalam ‘Et cetera # 1’, nampak membawa ungkapan ekspresi yang beragam. Keragaman itu nampak dibangun melalui perbedaan eksplorasi media dan teknik yang beranjak dari potensi paling sederhana, semisal keutamaan pensil, drawing pen, cat air, akrilik, gutta tamarin hingga digital print serta mixed media. Sementara soal subyect matter yang dielaborasi para perupa perempuan ini nampak bergerak di antara gambaran fenomena sosial dan lingkungan terkait dunia benda-benda, khewan, tumbuhan, dan manusia.
Intensi yang dibawa pun beragam, mulai dari upaya mengabadikan sensasi keindahan alam, persoalan yang dirasakan baik dalam kaitan personifikasi maupun respon personal atas kehidupan, hingga gagasan yang bersifat inter aktif.
Pergumulan dan pencarian nilai ekspresi yang ditempuh dan dijalani oleh para perupa yang tergabung dalam Komunitas 22 Ibu dengan keragaman ungkapan yang ditawarkannya di thee huis gallery ini tentu tidak sedang mengusulkan cara baru dalam mengartikulasikan berbagai persoalan dalam kehidupan secara estetis, melainkan turut menawarkan dan memperkaya ikhwal dan lain-lain sebagai entitas yang bermakna dalam proses kreasi menjadi semacam jalan terbuka bagi apresiasi, terlebih mengingat bahwa pengucapan seni sejatinya senantiasa menawarkan ke-beragam-an dan unik.
Sumber: Diyanto-Kurator, dan Komunitas 22 Ibu
Langganan:
Postingan (Atom)
Art illuminations in 18th – 19th centuries manuscripts from Ngayogyakarta Hadiningrat Palace as a creative industry development
Art illuminations in 18th – 19th centuries manuscripts from Ngayogyakarta Hadiningrat Palace as a creative industry development Abstract M...
-
Sabtu, 26 April 2014 bertempat di Gedung Kebudayaan UPI di jalan Setiabudi Bandung digelar pameran 21 dengan tajuk "The Other Side of...
-
Shine like water Lily_2014_ Mix Media on PAPER_60 X 60 CM_DINI BIRDIENI Water Lily is a very beautiful flowers...I really li...
-
IRAMA WAKTU -2014- MIX MEDIA - VARIABEL DIMENSION- 20 cm x 3oo cm (3 pieces), 20 x 180 cm (6 pieces), 20 x 120 cm (6 pieces) bY ARIE...











