Senin, 17 April 2017

CATATAN PERJALANAN: Pameran Seni Batik Modern, Seminar, dan Workshop di India

Salah satu bentuk eksistensi dari Komunitas 22 adalah dengan melakaukan banyak kerjasama dengan berbagai pihak, salah satunya diwujudkan dengan pengembangan kolaborasi dengan pihak KBRI India untuk menggulirkan agenda kerjasama dalam bentuk seni dan budaya.

Indonesia dan India adalah negara tetangga yang berada di kawasan Asia, hubungan diplomatik antara kedua negara telah terjalin sejak ribuan tahun yang lalu, dan secara politis tahun 1950 Presiden Soekarno bahkan memberikan seruan agar jalinan tersebut lebih terjalin erat, dengan  melakukan rintisan kerjasama dalam berbagai bidang yang berlanjut hingga pemerintahan masa sekarang di era globalisasi yang harus diantipasi dengan segala perkembangan dan dinamikanya.

Program kerjasama pemerintah Indonesia-India saat ini lebih fokus pada pengembangan teknologi, sedangkan kolaborasi  seni dan budaya belum banyak terjalin.  Guna mendorong hubungan bilateral antar kedua negara strategi yag bisa dilakukan adalah dengan diplomasi kebudayaan melalui program pertukaran budaya, yaitu menjalin hubungan dalam bentuk kolaborasi perempuan dalam hal seni dan budaya.

Peluang dan potensi dalam bidang kolaborasi perupa perempuan sangat banyak, maka pada posisi inilah kami para perempuan dari Komunitas 22 Ibu yang berasal dari lintas institusi di Indonesia menggagas sekaligus menginisiasi sekaligus mengisi peluang tersebut dalam kegiatan seminar, workshop, pameran dan perfomance art.

kegiatan yang digagas tersebut di atas dapat terealisasi dari tanggal 18 hingga 24 februari bertempat di 
  1. Indira Gandhi National Centre For The Arts- 11 Mansingh Road, Near Andhra Bhavan, New Delhi, Delhi 110011, India 
  2. Aligarh Muslim University- AMU Campus, Aligarh, Uttar Pradesh 202001, India.
  3. Kalingga Institute of Industrial Technology, K I I T University, Patia, Bhubaneswar, Odisha 751024, India.
Adapun catatan perjalanan ini adalah:
Hari ke 1: Keberangkatan dimulai dari bandara husen-bandung. Kami rombongan terbagi dua yaitu kloter pertama berjumlah 14 orang dan kloter kedua benrangkat dari jakarta sebanyak 5 orang. Transit di Kl dan kami tiba di New Delhi malam hari dengan dijemput oleh 2 mahasiswa dari Indonesia dan seorang staf dari KBRI. Bus sudah menanti kami dan kami istirahat sejenak menanti kedatangan kloter kedua yang keberangkatannya hanya jeda satu jam saja dengan kloter kami. ketibaan mereka membuat suasana meriah ditengah tengah bandara. saling berpelukan seolah baru jumpa.









Transit di KL



Hari kedua: pagi hari kami breakfast roti yang telah tersedia, dipadukan dengan isi yang sengaja kami bawa dari Indonesia. Ruang makan sudah disibukan oleh celoteh para perempuan. Jadwal kami hari ini adalah kunjungan ke Qutub Mihnar dan persiapan display untuk pameran: Qutub Mihnar adalah Qutb Minar adalah sebuah menara kemenangan, yang berfungsi sebagai menara masjid. Bangunannya dipenuhi oleh detail ornamen yng keren banget. Sultan Qutubuddin mengawali pembangunannya pada tahun 1192, setelah mengalahkan kerajaan Hindu terakhir di Delhi. Sultan Qutubuddin adalah raja berdarah Turki dari Asia Tengah yang memerintah wilayah India barat laut dengan Delhi sebagai pusat pemerintahanya. beliau menjadi raja empat tahun dari th1206 sampai 1210. Kompleks arsitektur ini dominan berwarna merah. Hingga saat ini Qutb Minar dianggap sebagai satu bagian penting dari menara kemenangan dunia Islam. Qutb Minar dinobatkan sebagai menara dengan material batu merah tertinggi di dunia, setinggi nyaris 73 meter, dengan diameter dasar 15 meter dan diameter puncak 2,5 meter membuat menara terlihat kokoh dan tegar. Menara berlantai lima ini mempunyai balkon sebagai penanda tiap lantai. Tiga lantai pertama dibangun dari bahan batu pasir merah, sementara lantai ke empat dan ke lima gabungan dari batu pasir dan juga marmer. Menara merah ini pernah terkena imbas bencana alam, pada tahun 1326 karena tersambar petir, dan tahun 1368 Sultan Delhi dari Dinasti Tughlaq, Firoz Shah, melakukan perbaikan bagian atas dan menambahkan kubah. Tahun 1803 tiba tiba gempa bumi meruntuhkan kubah, lalu diganti dengan kubah baru pada 1829. 




Siang hari kami kembali ke tempat tinggal kami, setelah makan siang lanjut ke tempat galeri untuk display karya kami yang akan dipamerkan. Total karya yang akan kami pamerkan sejumlah 34 karya seni batik dapat di akses pada http://duniaibu425.blogspot.co.id/2017/02/artwork-batik-komunitas-22-ibu.html

Setelah berkoordinasi dengan pengelola Galeri mulailah kesibukan penataan karya hingga sore hari. disela kesibukan kami juga berkunjung ke area bazar dibelakang galeri yang diselenggarakan oleh para mahasiswa setempat dari kampus terdekat. 

Sore hari kami kembali ke kamar dalam keadaan lelah dan masih harus berkoordinasi untuk penampilan besok dan kegiatan workshop batik dengan malam dingin. Kami briefing dan menentukan urutan pengenalan kami berikut dengan pakaian yang dikenakan kepada tamu pada esok hari, sekaligus mengecek persiapan untuk pembukaan pameran yang akan dibuka oleh bapak Duta Besar dari kedutaan Besar Indonesia di India. Menurut rencana beliau akan hadir bersama dengan istrinya. Kami tidur cukup larut malam, untuk menyiapkan kepentingan esok hari.

Hari ketiga: Pagi hari yang heboh semua berburu mandi dan dandan dengan pakaian daerah karena ingin menunjukkan bahwa kami berasal dari negara Indonesia yang memiliki adat budaya yang dapat ditampilkan melalui pakaian adat daerah. Sarapan pagi dikebut karena semua sudah gatal ingin berpotret dihalaman tempat kami menginap. maklum peristiwa langka kami bisa berkumpul dan mengenakan pakaian daerah. 

Setelah siap semuanya kendaraan yang akan membawa kami sudah datang dan kami berangkat menuju Galeri, disana beberapa orang sudah mulai hadir. Pembukaan pameran berlangsung lancar dengan diawali sambutan-sambutan oleh Ibu Ketua Delegasi, Bapak Duta besar, dan pengelola Galeri setempat, dan peresmian pameran ditandai dengan pemukulan gong.

Para tamu undangan datang mengalir memeriahkan pembukaan, dan setelah mengapresiasi karya seni batik yang mendapat respon bagus dari masyarakat setempat, kami mencicipi hidangan ala india yang disediakan oleh Galeri setempat.



Tidak ada komentar:

Art illuminations in 18th – 19th centuries manuscripts from Ngayogyakarta Hadiningrat Palace as a creative industry development

Art illuminations in 18th – 19th centuries manuscripts from Ngayogyakarta Hadiningrat Palace as a creative industry development Abstract M...