Kamis, 21 April 2016

PAMERAN PANDORA -SEX, WOMEN, AND THE CITY- BENTARA BUDAYA JAKARTA

Pola Empat. 2016. Ariesa Pandanwangi. Mix Media variabel dimension.
Kosmologi atas tanah, langit, laut, dan dunia manusia itu sendiri menjadi dasar pijakan saya dalam memahami makna kesempurnaan dalam konsep Pola empat (Sumarjo. 2014: 254). Pola empat merujuk pada kategori empat arah penjuru mata angin (hulu/utarahilir/selatan, barat-timur). Dalam hal ini Suzzane K Langer, menyatakan bahwa, simbol tidak mewakili objeknya, tetapi wahana bagi konsep tentang objek. Maka, penataan objek objek berupa empat lingkaran besar yang membentuk pola empat, bagi saya merupakan metafora laki laki dan perempuan, keduanya memiliki wilayah kekuasaan yang setara dan memiliki relasi yang solid antara satu dengan yang lainnya dalam menciptakan skema ruang yang statis sekaligus dinamis. Eksistensi objek lingkaran besar tersebut tak terlepaskan dari dinamika gerak 12 lingkaran kecil yang mengelilinginya. Penataan objek dalam konsepsi pola empat yang dikelilingi objek-objek kecil yang melambangkan waktu, demikian gerakan naik turun dari objek kecil adalah dinamika kehidupan. 






















 Sybill No. 4. 2016. Arti Sugiarti.  16 x 40 x 50 cm. Mix Media. 
Melukis bagi saya merupakan cara untuk mencari dan menemukan gambaran sekaligus pula upaya membebaskan diri dari ketatnya belenggu keseharian .Dalam proses berkarya, saya mencoba menepis kemungkinan bekerjanya keutamaan pikiran. Sebaliknya, sepanjang proses, saya mencoba intuitif, luruh dan membuka diri atas berbagai kemungkinan yang muncul selaku dorongan bawah sadar saya. Sebab itu, yang penting dan berharga dalam setiap proses yang saya lakukan adalah upaya mencairkan batas yang terbentang antara subjek (diri saya) dengan objek yang saya elaborasi, khususnya terkait pertanyaan- pertanyaan di sekitar hasrat, naluri (ke)wanita(an). Membayangkan ketegangan Pandora saat membuka kotak, mengantar saya memahami fenomena Sybil.


Empat Elemen. 2016. Ayoeningsih Dyah Woelandhary. 80 x 100 cm. Bolpoint on paper. 
Pandora selalu dikaitkan dengan keberadaan sebuah kotak berisikan perbagai peristiwa kebahagiaan sekaligus kenestapaan manusia. Dan manusia hidup dalam naungan semesta dengan elemen air, tanah, udara, api sebagai unsur utama kehidupan dan perempuan adalah symbol hidup keberlangsungan semesta dan dalam kotak andoralah semua misteri hidup manusia terlahir.Visual perempuan dengan symbol 4 elemen menjadi gagasan dalam kekaryaan.


Sheer Guile. 2016. Belinda.  125 x 235 cm. Acrylic on Canvas.
"Women has always been degraded to 'object' either in life or art. They must have a right value, a perfect size, and a good rate to everything. They can not stand apart from what men's want or think. For women are a gift and a curse for them. An 'All-gifted', but also a "sheer guile, not to be withstood by men."


Death could be somebody's HOPE. 2016. Dini Birdieni. Mix Media on Canvas.
Size: 5 panels (85cm X 140cm)

PANDORA adalah Wanita dan Problematika...wanita dengan berjuta masalah kekinian"...perceraian... poligami...karier...ibu rumah tangga...dan berbagai cara wanita untuk SURVIVE... Harapan (HOPE) adalah makhluk terakhir yang akan muncul dari kotak Pandora. Ketika seseorang sudah sangat jengah dan lelah menanti "HOPE" atau harapan...bisa jadi "death" atau kematian menjadi harapan yang sangat dinanti Dengan persepsi yang kematian akan lebih indah dari kehidupannya kini...



Move On. 2016. Endah Purnamasari. Mix Media. Variable dimension. 
Tali belenggu sebagai penghalang mulai terlepas. Keajaiban menuntun ke arah jalan yang bisa dititi, ditapaki, dilalui. Walau pasti ada rintangan tapi tekad kuat menjadi perisai untuk terus berlari menuju impian yang ingin diwujudkan.










Diatas Katel. 2016. Eneng Nani Suryati. Mixmedia (katel, kertas, video).
Seperti halnya Pandora, dalam kemelut kehidupan sesungguhnya harapan muncul dari kemelut itu sendiri. Ialah doa yang berasal dari hati yang tulus, yang kelak akan menjadi harapan untuk berhenti dari segala kemelut yang ada. Ketika hidup manusia dirundung pilu dan kesakitan, bukankah sekali lagi itulah ujian yang tuhan (dewa bagi Pandora) berikan pada manusia (sementara ujian dewa ditujukan kepada Pandora). Manusia ber-Tuhan akan tahu kepada siapa dia harus kembali, akan tahu apa yang harus dilakukannya ketika mendapatkan cobaan serta ujian dari Yang Maha Kuasa. Wanita dengan doanya yang tulus, yang serta merta memiliki arti penting dalam kehidupan. Membuat harapan yang seakan jauh untuk dipijak, selalu dibuat mungkin olehnya. Doa seorang ibu, yang suatu hari nanti akan menjadi harapan terbesar suatu negeri kacau balau berhasil dicapai, berawal dari doa untuk suaminya, untuk anak-anaknya, keluarganya, dan negerinya.


Asa Pandora. 2016. Entit Usdiati. 80 x 140 cm. Acrylic on Canvas. 
Saat seorang wanita diberikan sesuatu yang menjadikan dia penasaran, pasti berusaha mencari tahu apa gerangan, tidak terpikirkan ada bahaya atau tidak sehingga kadang isinya mengecewakan dan membuat gundah gulana, namun terkadang walaupun kecewa ada sedikit asa didalamnya yang akan membuat sesuatu menjadi besar , indah dan menyenangkan, sebab sedikit asa akan membuahkan sesuatu yang sangat besar dan positif tak ada asa negatif bagi insane positif,menjadi hukum alam sedikit asa memberi tuntunan ke arah yang terbaik. Optimistis wujud dari setitik asa.

Aku Apa?. 2016. Esti Fadilah. 90 x 140 cm. Mix Media on Canvas.
Karya ini bertolak dari fenomena sosial, khususnya yang dialami perempuan di masa kini. Problematika pencarian jati diri yang dilakukan perempuan merupakan pijakan menarik, demikian teknik drawing yang saya pilih, dalam praktiknya merupakan pendekatan estetik dalam memahami fenomena tersebut.




Perempuan Tangguh. 2016. Ety Sukaetini. 90 x 150 cm. Drawing Pen on Canvas.
Pandora begitu mempesona, sampai-sampai Epimetheus tertarik dan menikahinya. Pandora melepaskan teror ke dunia, akibat ketidak taatan pada dewa- dewa yang telah menghadiahi kotak yang tidak boleh dibuka. Akhirnya ,dari semua itu bencana atau hikmah? Pandora nyatanya, tetap punya HARAPAN bahwa PEREMPUAN harus TANGGUH.

Some Behind the Grass. 2016. Gilang Cempaka. 100 x 80 cm. Acrylic on Canvas.
Walaupun seorang perempuan memliki banyak peran baik di area public maupun domestik, ia tetap seorang pribadi utuh yang berhak memiliki dirinya sendiri tanpa terbagi apapun atau siapapun. Ia berhak memiliki ruang dan waktu untuk dirinya sendiri, untuk berekspesi, mengejar keinginan dan hasratnya. Apapun peran seorang perempuan, hendaklah ia menjadi pribadi yang kuat dan mandiri, menolak untuk pasif dan tertindas. Karya ini menggambarkan seorang perempuan yang sedang menikmati waktunya sendiri, jauh dari keriuhan peran gandanya di wilayah publik dan domestik. Dilatari oleh perbukitan, pepohonan, dan jalan raya, tampak perbukitan itu mejadi tempat yang sempurna untuk sejenak bersembunyi, menikmati ruang dan waktu yang sepi. Dimana tempat tersebut mungkin tidak disadari keberadaannya oleh hiruk pikuk jalanan dan desiran lalu lalang kendaraan. Sebuah tempat bersembunyi tidaklah harus jauh di ujung dunia sana, sebuah tempat dimanapun itu bisa menjadi ruang untuk sejenak menjadikan diri kita utuh menjadi diri sendiri.




The Hope. 2016. Risca Nogalesa Pratiwi. 200 x 100 x 75 cm. Instalasi & Mix Media.
Jika sang penggunci hadir untuk kotak pandora Apa kita mengenal malapetaka Yang menjadikan kita manusia seutuhnya Jika sang penggunci menggugat sang zeus apa kotak itu akan terkunci sehingga kita tak merasakan kesengsaraan Jika sang penggunci meminta Pandora mengembok erat kotak pemberian zeus, Apa kotak itu tak akan pernah terbuka Apa yang kita harapkan dari sang pengunci yang hadir untuk pandora sedangkan asa itu sendiri ada didalam kotak pandora Jika sang pengunci hadir untuk wanita apa yang mesti terkunci Atau kita menggugat, mengapa wanita tercipta dengan keindahan yang menggoda kaum adam, wanitalah membuat kotak itu terbuka atau membuat manusia turun kebumi karena memakan buah terlarang Tapi tanpa wanita apalah arti kaum lelaki Sang penggunci dalam kehadirannya akan menghadirkan banyak pertanyaan, maka sangkarkan setiap pertanyaan dan jawaban dalam jiwa.



Sorrow. 2016. Mia Syarief. 200 x 150 cm. Acrylic on Canvas.
'Kesempurnaan' seorang wanita bukanlah kesempurnaan yang hakiki. Selama rintihannya masih tak berujung… Penyesalannya masih tak terbendung… Dan jiwanya masih berharap kedamaian yang tak terukur… Coba Tuhan menciptakan waktu dua arah, agar bisa kembali menghapus semua kekeliruan di masa lalu…
The Souls. 2016. Nenny Nurbayani. 150 x 100 cm. Acrylic on Canvas.
"Pandora adalah perempuan pertama yang diciptakan oleh para dewa dalam mitos Yunani. Berbagai keindahan ada padanya. Begitu antusiasnya atas keberadaan Pandora, para dewa berlomba2 memanjakan nya dengan berbagai hadiah sebagai rasa peduli dalam berbagai bentuk, baik itu berupa kebaikan ataupun yang akhirnya menjadi keburukan. Kecantikannya merubah sifatnya. Egoisme muncul karena semua yang diinginkannya bisa dimiliki, membuat Pandora lupa diri, sampai akhirnya dia sendiri begitu muak dengan semua kemewahan itu, termasuk terhadap egonya sendiri. Pandora ingin melepaskan diri dari segala himpitan itu. Tapi semua sudah melekat didirinya. Sebuah dilema baginya.". Dimana tempat tersebut mungkin tidak disadari keberadaannya oleh hiruk pikuk jalanan dan desiran lalu lalang kendaraan. Sebuah tempat bersembunyi tidaklah harus jauh di ujung dunia sana, sebuah tempat dimanapun itu bisa menjadi ruang untuk sejenak menjadikan diri kita utuh menjadi diri sendiri.


Perempuan Turun Harga. 2016. Nida Nabilah. 280 x 165 cm. Acrylic on Canvas.
Maraknya wanita pekerja seks komersil di kota-kota besar, salah satu alasannya adalah keadaan ekonomi. Banyak dari mereka yang memanfaatkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Mirisnya pelaku bukan hanya kalangan wanita dewasa, perempuan yang masih dibawah umurpun telah melakoni pekerjaan tersebut. Kemirisan wanita ini saya gambarkan secara simbolik sebagai sosok yang mengerikan dan menakutkan. Bahkan ketika wanita ini memoles wajahnya dengan keindahan, menghiasi dirinya dengan perhiasan, dan memakai pakaian yang minim, tetaplah tidak membuat wanita ini semakin terlihat baik tetapi sebaliknya semakin buruk. Sejatinya wanita cantik adalah wanita yang bisa menjaga hatinya, harga dirinya dan perbuatannya. Bukan terletak pada pakaian yang dipakainya, bukan pula pada perhiasan yang menghiasi tubuhnya atau pada bentuk tubuh yang aduhai. Raga sifatnya adalah sementara, kecantikan adalah ujian dari Tuhan yang harus dilalui seorang wanita. Dan harta adalah titipan-Nya. Dalam imajinasi saya, wanita yang berperilaku tidak semestinya itu bagaikan orang buta yang tidak bisa melihat dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kuping serta hidungnya seperti kelelawar, yang senantiasa keluar malam mencari mangsa.

Mawar. 2016. Niken Apriani. 120 x 120 cm. Sutera.
Pandora bagai Mawar melàmbangkan cinta. kasih sayang member keindahan yang mempesona Dan bermaanfaat untuk sdkelilingnya. Wanita sering di simbolkan bagai mawar. Indah diluar..sulit untuk menggapainya dengan duri yang melindunginya. Ataupun wanita ingin melepaskan diri dari duri yang mngelilinginya.. Penuh perjuangan tetap ada harapan dengan kuntumnya yang Indah.




(Atas) Eksperimen bidang patch work. 2016. Nina Irnawati. 120 x 60 cm (2 bidang). Kain Katun.
Ekspansi dalam berkarya seni rupa merupakan pertaruhan antara keberanian dan keinginan, gejolak ini terus bergelora, hingga tampil lah karya pacth work pada bagian atas laman ini, sebuah eksperimen yang penuh dengan tantangan, karya ini saya ibaratkan seperti sebuah ujian kesabaran, bagi seorang wanita ujian kesabaran adalah bagaikan darah yang mengalir alami, yang setiap detik harus dirasakan alirannya, hingga mencapai sebuah titik yaitu kebahagiaan. Pada Karya Eksperimen Bidang Patch Work Ini dibuat sebagai potongan bidang-bidang Dengan tata letak yang bebas beraturan, berbagai motif kain yang berbeda-beda juga komposisi warna, proses berkarya dilakukan dengan menggunakan jahit tangan.















Emotion. 2016. Nita Dewi. 140 x 160 cm. Mix Media on Canvas.
Satu hal yg tersisa dari hati seorang perempuan adalah harapan...harapan akan kebaikan selepas dari penderitaan dan emosi yang membelengu realita....hidup tanpamu adalah pengasingan buatku..

Colony. 2016. Nuniek Mawardi. 200 x 60 x 60 cm. Fashion Design.
Manusia akan selalu menghadapi tantangan, perubahan dari luar yang merusak. Tanpa adanya eksistensi dari manusia kemungkinan untuk hidup diubah secara paksa dapat terjadi. Untuk dapat bertahan maka manusia membutuhkan satu sama lainnya. Untuk menyokong keberlangsungan hidup bersama dan membentuk koloni. Karya dimetaforakan melaluibahan serat alam sebagai bahan utama. Manifulating fabric yang ditonjolkan akan mengangkat chrocet dan applique sebagai teknik utama.

Kemilau Daun Perak-ku. 2016. Nuning Damayanti. 270 cm x 120 cm. Reprint-drypoint on paper
Alam adalah guru terbaik bagi kita sebagai manusia, alam tidak mengajar melalui kata kata tapi dia memberi imajinasi tentang kehidupan sehingga membuat kita berfikir dan menjadi lebih bijak. Saat kecil hingga menjelang remaja saya hidup dilingkungan pedalaman yang hijau penuh pepohonan dan tumbuhan. Daun adalah bagian dari tumbuhan yang seringkali menarik perhatian saya, daun bagi saya adalah salah satu visualisasi tentang perjalanan hidup, dimana dia tumbuh diawali dengan mewujud pucuk kemudian merekah dan layu menguning dan mengering kemudian berguguran lantas mati, setelah itu hilang lenyap menyatu kembali dengan tanah. Fase fase visualisasi itu mengajak saya berimajinasi dan berfikir tentang lingkaran perjalanan hidup ( Circle of Life). Ilustrasi misterius yang imajinatif yang mengajarkan pada saya tentang dunia yang tidak abadi dan dunia masa depan setelahnya. Rasa penasaran seringkali menjadi pertanyaan apa yang terjadi pada daun itu kemudian setelah dia gugur dan hilang.... entahlah. Mungkin sama dengan rasa penasaran Pandora saat melihat ingin melihat isi kotak kehidupan. Untuk itu saya berikan penghargaan dengan merekam daun fase saat mulai merekah, dengan sudut pandang yang saya pilih menurut saya wujud daun yang paling indah sebagai analogi kemilau cantik imajinasi tentang fase tercantik feminitas perempuan.


Misteri. 2016. Sri Nuraeni. 100 x 150 cm. Mix Media on Canvas.
Kehidupan perempuan akan tetap menjadi misteri sepanjang jaman. Apa yang nampak pada diri seorang perempuan, kecantikan, keanggunan yang penuh pesona tidak akan mampu menggambarkan kehidupan yang sesungguhnya. Mengarungi kehidupan perempuan ibarat memasuki hutan belantara yang gelap, berliku, penuh dengan kejutan-kejutan yang tak terduga, mungkin menyenangkan, mungkin juga tidak, tetapi bila bisa memahaminya, menyelaminya, dia 'perempuan' adalah 'surga dunia'. 45

Ilusi dalam Trylogi. 2016. Nurul Primayanti. 80 x 80 cm. Acrylic on Canvas.
Karya ini menceritakan momen yang terekam setelah kotak Pandora terbuka, ternyata yang mengatur alam semesta adalah Trilogy. Menguak aturan main alam semesta dalam dimensi bentuk, yaitu :
- bulat (bola) = gelombang frekwensi waktu,
- segitiga (limas/kerucut)= pencapaian tertinggi =1,
- dan persegi (kubus) = value
Bumi tercinta diatur secara akurat dengan (3 bentuk) trigonometri alam semesta, pengaruh elektromagnetis perputaran matahari dan perputaran bulan (29 hari), ikut mempengaruhi perilaku emosi mahluk hidup di bumi terutama wanita, karena wanita mempunyai perasaan dan kepekaan terhadap pengaruh dan perubahan yang ditimbulkan oleh alam semesta.


Angan. 2016. Rina Mariana. 350 x 250 x 150 cm. Instalasi-kawat-lighting-Mix Media
Wanita dengan gaun peri kupu kupu muncul dari ikatan yang membatasi ruang geraknya untuk hidup dan berjuang membela dirinya .. Seiring perjuangannya dapat memberikan inspirasi dan memotivasi sesamanya .., lainnya bahkan semua apresiator dan ekspektor .. , Konsep :sosok wanita bergaun dilengkapi dengan sayap sayap kupu-kupu , kupu-kupu yang besar sebagai alat terbang .., kupu2 ukuran sedang melengkapi sebagai nitizent peran Peri .. Kupu2 kecil menyebar berterbangan bejumlah 40 sebagai pengikut peri juga beberapa ulat, kepongpong, lava.. Smua terbuat dadi kawat stainless aksen lampu warna-warni sebagai cahaya , kawat kawat berduri sebagai alas awal munculnya peri. Tujuannya: berfungsi bagi dunia pendidikan : Selain sekedar instalasi , konsep dirancang untuk memberi pilihan mode gaun wanita, metamorfosis kupu-kupu. Manfaatnya : sebagai media pembelajaran Seni Rupa.



                         Pandora Inspiring. 2016. Siti Sartika. 100 x 200 cm. Pencil on Canvas
Mampu mendorong dan menjadi sumber motivasi bagi munculnya sebuah pemikiran baru, mendorong untuk berkerja dan berkarya untuk sebuah harapan bagi pandora2 diplanet bumi ini.

Little Butterfly. 2008. Siti Wardiyah. 50 x 80 cm. Acrylic on Canvas.
Mengenai wanita kecil yang jika dunianya dilingkupi keindahan akan menyebar kebaikan juga. Karya ini memvisualkan tentang keluguan dan ketulusan. Seorang anak diantara bunga-bunga bakung.


Wayangku. 2016. Sri Sulastri. 220 x 120 cm. Acrylic on Canvas.
Mensinergikan antara kekuatan berkarya, kekuatan hobby berbatu akik juga hobby photo selfie ….Akhirnya terbentuk sosok wayang berbatu akik sedang selfie dan bernyanyi.

Reflection. 2016. Tessa Eka Darmayanti. Instalasi 4 Cermin- 4 Potrait.
Pandora is one of the most descriptive myths of human behavior..." You Sad but pretend to be Happy - Careless but pretend to be Cautious - Unfaithful but pretend to be Faithful - Rude but pretend to be Kind – Shy but pretend to be Confidence - Liar but pretend to be Sincere - Angry but pretend to be Calm... then, you can pretend to be anyone".

Sonne. 2016. Wanda Listiani. 120 x 90 cm. Mix Media.
Die Schönheit in der Pandora mythologie bezeichnet die Dichotomie des Lebens – Reiz und zugleich Katastrophe – die verschiedene Möglichkeiten, Chancen, Träume und Hoffnung für die Lebewesen geben, die unter der Sonne Leben.

(Kecantikan pada Mitologi Pandora menandakan adanya dualitas kehidupan - pesona sekaligus bencana - yang selalu memberi berbagai kemungkinan, peluang, kesempatan, impian dan harapan baru bagi makhluk yang hidup dibawah putaran matahari).

Dzikir. 2016. Wien Sumarsono. 130x 100 cm. Mix Media




Tidak ada komentar:

Art illuminations in 18th – 19th centuries manuscripts from Ngayogyakarta Hadiningrat Palace as a creative industry development

Art illuminations in 18th – 19th centuries manuscripts from Ngayogyakarta Hadiningrat Palace as a creative industry development Abstract M...